<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>eTNOFILM</title>
	<atom:link href="http://etnofilm.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://etnofilm.wordpress.com</link>
	<description>is documentary</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Jun 2008 07:49:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='etnofilm.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>eTNOFILM</title>
		<link>http://etnofilm.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://etnofilm.wordpress.com/osd.xml" title="eTNOFILM" />
	<atom:link rel='hub' href='http://etnofilm.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>MANUSIA PERAHU (SEANOMEDIC) SUKU BAJO</title>
		<link>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/07/seanomedic-suku-bajo/</link>
		<comments>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/07/seanomedic-suku-bajo/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 May 2008 07:44:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>etnofilm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunitas Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Seanomedic]]></category>
		<category><![CDATA[Suku Bajo]]></category>
		<category><![CDATA[Teluk Bone]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://etnofilm.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Suku Bajo dikenal sebagai pelaut-pelaut yang tangguh. Namun, sejarah lebih mengenal suku Makassar, suku Bugis, atau suku Mandar, sebagai raja di lautan. Padahal, suku Bajo pernah disebut-sebut pernah menjadi bagian dari Angkatan Laut Kerajaan Sriwijaya. Sehingga, ketangguhan dan keterampilannya mengarungi samudera jelas tidak terbantahkan. Sejumlah antropolog mencatat, suku Bajo lari ke laut karena mereka menghindari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=etnofilm.wordpress.com&amp;blog=3649580&amp;post=7&amp;subd=etnofilm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Suku Bajo dikenal sebagai pelaut-pelaut yang tangguh. Namun, sejarah lebih mengenal suku Makassar, suku Bugis, atau suku Mandar, sebagai raja di lautan. Padahal, suku Bajo pernah disebut-sebut pernah menjadi bagian dari Angkatan Laut Kerajaan Sriwijaya. Sehingga, ketangguhan dan keterampilannya mengarungi samudera jelas tidak terbantahkan.</strong></p>
<p>Sejumlah antropolog mencatat, suku Bajo lari ke laut karena mereka menghindari perang dan kericuhan di darat. Sejak itu, bermunculan manusia-manusia perahu yang sepenuhnya hidup di atas air. Nama suku Bajo diberikan oleh warga suku lain di Pulau Sulawesi sendiri atau di luar Pulau Sulawesi. Sedangkan warga suku Bajo menyebutnyadirinya sebagai suku Same. Dan, mereka menyebut warga di luar sukunya sebagai suku Bagai.</p>
<p><span id="more-7"></span></p>
<p>Nama “bajo” sendiri ada yang mengartikannya secara negatif, yakni perompak atau bajak laut. Menurut cerita tutur yang berkembang di kalangan antropolog, kalangan perompak di zaman dulu diyakini berasal dari suku Same. Sejak itu, orang-orang menyebut suku Same sebagai suku Bajo. Artinya, ya suku Perompak. Anehnya, nama suku Bajo itu lebih terkenal dan menyebar hingga ke seluruh nusantara. Sehingga, suku laut apa pun di bumi nusantara ini kerap disamaratakan sebagai suku Bajo!</p>
<p>Belakangan, pemaknaan negatif ini membangkitkan polemik berkepanjangan. Banyak kalangan yang tidak menyetujui dan membantah arti “bajo” sebagai perompak atau bajak laut. Karena, itu sama artinya dengan menempatkan suku Bajo di tempat yang tidak semestinya dalam buku sejarah kita. Apa pun hasil akhir perdebatan itu, faktanya banyak juga kalangan antropolog yang sangat yakin dengan akurasi konotasi negatif itu.</p>
<p>Lucunya, perdebatan demi perdebatan tentang suatu masalah, justru tidak pernah menghasilkan kesimpulan yang kian sempurna. Sehingga, hanya kebingunganlah yang mesti dinikmati orang-orang yang berniat mempelajari ilmu pengetahuan tersebut. Termasuk juga tentang asal-muasal kata “bajo”!</p>
<p>Yang pasti, suku Bajo adalah suku Same atau suku laut yang hingga sekarang masih memukimi banyak lokasi di seluruh nusantara. Di mana ada tanjung, maka di sanalah suku Bajo membangun kehidupan. Di mana ada laut, maka di sanalah suku Same itu mencari nafkah. Dengan bernelayan, tentu saja.</p>
<p>Pada suku Bajo dikenal empat kelompok masyarakat menurut kebiasaannya bernelayan, yakni kelompok lilibu, kelompok papongka, kelompok sakai, dan kelompok lame. Kelompok lilibu adalah suku Bajo yang biasanya bernelayan di laut hanya satu atau dua hari. Mereka menggunakan perahu soppe yang dikendalikan dayung. Setelah mendapat ikan, mereka kembali ke darat, untuk menjual hasil tangkapan atau menikmatinya bersama keluarga.</p>
<p>Kelompok papongka berada di laut bisa sepekan atau dua pekan. Mereka menggunakan jenis perahu yang sama besarnya dengan kelompok lilibu. Sekadar perahu soppe. Bila dirasa telah memperoleh hasil atau kehabisan air bersih, mereka akan menyinggahi pulau-pulau terdekat. Setelah menjual ikan-ikan tangkapan dan mendapat air bersih, mereka pun kembali ke laut. Begitu seterusnya.</p>
<p>Bedanya dengan kelompok lilibu, mereka baru akan pulau ke rumahnya setelah seminggu atau dua minggu mencari nafkah. Pada saat kembali ke rumah, sang nelayan biasanya membawa uang dan berbagai kebutuhan rumahtangga lainnya. Jadi, tidak lagi membawa ikan tangkapan.</p>
<p>Kelompok sakai memiliki kebiasaan mencari ikan yang lebih dasyat lagi. Mereka tidak jauh berbeda dengan kelompok papongka. Namun, wilayah kerjanya lebih luas. Bila kelompok papongka hitungannya seluas provinsi, maka kelompok sakai hitungannya antarprovinsi. Katakanlah, antarpulau. Sehingga, waktu yang dibutuhkan pun lebih lama. Mereka bisa berada di “tempat kerja”nya itu selama sebulan atau dua bulan. Karena itu, perahu yang digunakan pun lebih besar dan saat ini umumnya telah bermesin.</p>
<p>Kelompok terakhir, kelompok lame bisa dikategorikan nelayan-nelayan yang lebih berkelas. Mereka menggunakan perahu besar dengan awak yang besar dan mesin bertenaga besar. Karena, mereka memang bakal mengarungi laut lepas hingga menjangkau negara lain. Dan, mereka bisa berada di lahan nafkahnya itu hingga berbulan-bulan. Jadi ingat film “Perfect Storm”nya George Clooney.</p>
<p>Di luar empat kelompok itu, tentu saja, kita tidak bisa memungkiri warga suku Bajo yang bermukim di atas perahu. Seanomedic, istilahnya. Warga suku Bajo menyebutnya rumah palemana atau rumah di atas perahu. Karena, mereka memang bermukim dan mencari nafkah sepenuhnya di atas perahu soppenya, atau perahu beratap rumbia yang hanya dikendalikan dayung! Gampangnya, sebut saja mereka manusia perahu. []</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/etnofilm.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/etnofilm.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/etnofilm.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/etnofilm.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/etnofilm.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/etnofilm.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/etnofilm.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/etnofilm.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/etnofilm.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/etnofilm.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/etnofilm.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/etnofilm.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/etnofilm.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/etnofilm.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/etnofilm.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/etnofilm.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=etnofilm.wordpress.com&amp;blog=3649580&amp;post=7&amp;subd=etnofilm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/07/seanomedic-suku-bajo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/485a6dc0e6d3815c59af1de16a92b894?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">etnofilm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PUNGGAWA, &#8220;PEMIMPIN&#8221; SUKU MANDAR</title>
		<link>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/07/suku-mandar-punggawa-perah-sandeq/</link>
		<comments>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/07/suku-mandar-punggawa-perah-sandeq/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 May 2008 07:42:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>etnofilm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunitas Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Perahu Sandeq]]></category>
		<category><![CDATA[Punggawa]]></category>
		<category><![CDATA[Suku Mandar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://etnofilm.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Kawasan pesisir Sulawesi Barat dikenal sebagai tempat bermukimnya suku Mandar – salah satu suku laut di pulau Sulawesi. Dalam dunia antropologi, nama suku Mandar senantiasa disejajarkan dengan suku Bugis, suku Makassar, atau suku Bajo. Salah satu perbedaan suku Mandar dibandingkan suku-suku laut lainnya di pulau Sulawesi, mereka dikenal sebagai possasiq atau pelaut-pelaut yang tangguh. Sebenarnya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=etnofilm.wordpress.com&amp;blog=3649580&amp;post=5&amp;subd=etnofilm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kawasan pesisir Sulawesi Barat dikenal sebagai tempat bermukimnya suku Mandar – salah satu suku laut di pulau Sulawesi. Dalam dunia antropologi, nama suku Mandar senantiasa disejajarkan dengan suku Bugis, suku Makassar, atau suku Bajo. Salah satu perbedaan suku Mandar dibandingkan suku-suku laut lainnya di pulau Sulawesi, mereka dikenal sebagai possasiq atau pelaut-pelaut yang tangguh.</strong></p>
<p>Sebenarnya, mereka bukan hanya dikenal sebagai pelaut yang sanggup mengarungi lautan berapa pun jauhnya. Tapi, mereka pun handal dalam mengumpulkan ikan di laut-laut dalam. Mereka memang menggantungkan nafkah sehari-harinya pada laut. Sehingga, perahu dan laut pun menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan mereka.</p>
<p><span id="more-5"></span></p>
<p>Nama suku Mandar kerap dikaitkan dengan salah satu jenis perahu kreasi mereka, perahu sandeq. Yakni, perahu tradisional dengan layar lebar, cadik, katir panjang, serta bentuk haluan dan buritan yang pipih-runcing. Karena bentuk buritan yang pipih-runcing itu, maka disebut sandeq yang berarti “runcing”. Dan, bagi warga suku Mandar, perahu sandeq bukan sekedar kendaraan untuk mencari nafkah, tapi juga memberikan status sosial tinggi bagi pemiliknya.</p>
<p>Perahu sandeq dibuat dengan mengacu pada struktur manusia, dengan tulang rangka dan anggota-anggota tubuh lainnya. Pusat “kehidupan” perahu sandeq adalah pada possi atau pusat di bagian bawah tengah lambung. Saat perahu tersebut dibuat atau tengah menjalani prosesi ritual, possi mendapat perhatian tersendiri dari pemimpin ritual (sanro).</p>
<p>Cerita menarik yang dapat digali dari perahu sandeq adalah kekerabatan yang kental antara perahu sandeq dan awaknya (passandeq). Ibarat kuda dan jokinya. Perahu sandeq yang kokoh, cantik, dan mampu melaju cepat di atas samudera (lopi sandeq nan malolo), harus dikendalikan oleh passandeq-passandeq yang tangguh. Mereka terdiri atas punggawa dan sawi – dalam konteks suku Bugis atau suku Makassar, sawi disebut sahi.</p>
<p>Punggawa merupakan kapten dan juru mudi, sedangkan sawi menjadi pengatur arah layar dan keseimbangan perahu. Di atas perahu sandeq, punggawa dan sawi merupakan kelompok kerja yang kompak. Pada hakekatnya, punggawa adalah pemimpin atas para sawi. Karena itu, ia bukan orang sembarang di dalam timnya.</p>
<p>Seseorang dijadikan punggawa, karena ia dianggap mumpuni dalam hal; keterampilan melaut (paqissangang aposasiang), pengetahuan berlayar (paqissangan sumobal), pengetahuan keperahuan (paqissangang paqlopiang), dan kemampuan supranatural (paqissangan). Punggawa bukanlah orang yang dipilih karena kedekatannya dengan pemilik perahu atau kepala desa. Tapi, ia memang memiliki bekal keterampilan yang lebih dibandingkan para sawinya.</p>
<p>Umumnya para punggawa adalah orang-orang yang sudah berumur. Warga suku Mandar memang tidak pernah bermain-main dalam urusan penetapan punggawa. Karena, ia bukan hanya akan bertanggungjawab atas laju perahu di atas air. Tapi, juga menyangkut keselamatan seluruh awaknya dan pendapatan melautnya.</p>
<p>Di atas perahu sandeq, ia benar-benar menjadi tokoh kharismatik bagi para sawi. Komando-komando sang punggawa menjadi peraturan mutlak bagi para sawi. Karena itu, punggawa yang pendiam sekali pun akan berubah total saat ia memimpin di atas perahu sandeq. Tiba-tiba, ia bisa berwatak keras dan garang saat mendapati sawinya tidak patuh atau lamban menerima instruksinya. Tapi, ia juga bisa menjadi lembut dan santun tatkala para sawi telah melaksanakan tugasnya dengan sempurna.</p>
<p>Dalam kenyataan, belum pernah ditemukan dalam sejarah atau antropologi suku Mandar, kisah sawi yang membelot atau melawan punggawanya. Karena kharismatik dan wibawa sang punggawa, para sawi ikhlas menyerahkan pikiran, tenaga, bahkan jiwanya. Sebaliknya, belum pernah juga ditemukan, cerita punggawa yang mamarahi atau memaki sawinya secara membabi-buta. Di atas perhau sandeq, mereka memang tim yang padu dan tidak pernah berbenturan emosi.</p>
<p>Seorang punggawa dipilih karena ia memiliki modal terbesar dalam kepemimpinannya, yakni personal power (kharisma). Modal itu didapat bukan dari sekolah atau perguruan tinggi. Tapi, titisan bakat, pengalaman berguru pada orang-orang pintar, dekat dengan Yang Mahapencipta, dan keterampilan teknis yang terus diasah, menjadi peluru-peluru berharga, untuk melengkapi personal power.</p>
<p>Dan seperti juga masyarakat adat di daerah lain, variabel personal power menjadi syarat utama dibandingkan syarat-syarat lain. Terlebih lagi, faktor “x”. Mereka tidak mengenal istilah KKN. Mereka tidak mengenal siasat “kedekatan”. Bahkan, pemunculan aura “kharisma” pun tidak dengan unsur kesengajaan. Tapi, hal itu dibentuk proses panjang dan proses pembelajaran jiwa yang dalam (lelaku).</p>
<p>Ia merupakan cerminan pemimpin yang senantiasa berserah diri kepada Yang Mahasuci. Karena itu, ia bukan hanya sosok yang telah melewati tahap-tahap pembentukan pribadi nan bersabar, bersyukur, bertawakal, dan berzuhud. Tapi, ia memang sudah istiqomah untuk menjalaninya dengan ketekunan. Di luar mencari nafkah di atas perahu sandeq atau perahu nelayan lainnya, ia lebih banyak memncurahkan waktunya hanya untuk Tuhan.</p>
<p>Kesimpulannya, punggawa adalah gambaran pemimpin yang menyejukkan hati para sawi. Ia adalah tokoh panutan, sandaran, dan juga masa depan. Pola kepemimpinannya yang terbilang tradisional justru menghadirkan inspirasi mendalam di kancah kepemimpinan modern. Adakah sosok kharismatik yang bisa kita dapatkan di lingkungan kita? []</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/etnofilm.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/etnofilm.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/etnofilm.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/etnofilm.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/etnofilm.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/etnofilm.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/etnofilm.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/etnofilm.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/etnofilm.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/etnofilm.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/etnofilm.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/etnofilm.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/etnofilm.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/etnofilm.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/etnofilm.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/etnofilm.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=etnofilm.wordpress.com&amp;blog=3649580&amp;post=5&amp;subd=etnofilm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/07/suku-mandar-punggawa-perah-sandeq/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/485a6dc0e6d3815c59af1de16a92b894?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">etnofilm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>OM JIMA, WARGA SUKU WANA</title>
		<link>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/07/suku-wana-morowali/</link>
		<comments>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/07/suku-wana-morowali/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 May 2008 07:41:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>etnofilm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunitas Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Morowali]]></category>
		<category><![CDATA[Om Jima]]></category>
		<category><![CDATA[Suku Wana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://etnofilm.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Jauh di pedalaman Taman Nasional Morowali, Sulawesi Tengah, bermukim sebuah suku terasing bernama suku Wana. Tidak mudah untuk mendapati keterasingan mereka. Dari Kota Kolonodale, paling tidak kita membutuhkan waktu hingga tiga hari untuk menjangkau kampung terdekat. Itu pun harus melintasi laut, sungai, dan menyusuri jalan setapak sekitar dua hari. Serta, naik-turun bukit! Kalangan antropolog mengenal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=etnofilm.wordpress.com&amp;blog=3649580&amp;post=4&amp;subd=etnofilm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jauh di pedalaman Taman Nasional Morowali, Sulawesi Tengah, bermukim sebuah suku terasing bernama suku Wana. Tidak mudah untuk mendapati keterasingan mereka. Dari Kota Kolonodale, paling tidak kita membutuhkan waktu hingga tiga hari untuk menjangkau kampung terdekat. Itu pun harus melintasi laut, sungai, dan menyusuri jalan setapak sekitar dua hari. Serta, naik-turun bukit!</strong></p>
<p>Kalangan antropolog mengenal mereka sebagai masyarakat perburu-peramu. Artinya, mereka gantungkan hidupnya dengan berburu dan meramu binatang atau hewan yang didapatnya. Orang Wana dikenal memiliki keterampilan berburu dan memasang jerat hewan yang handal. Karena mengikuti pergerakan untuk memburu binatang, dulunya mereka juga rajin berpindah-pindah tempat.</p>
<p><span id="more-4"></span></p>
<p>Ada catatan sejarah yang menarik untuk dipaparkan.</p>
<p>Dulu sebenarnya warga suku Wana bermukim di kawasan pesisir. Ketika Kesultanan Islam di Pulau Sulawesi melakukan ekspansi dan memaksa mereka untuk berpindah keyakinan dan membayar upeti, mereka menolaknya. Lalu, mereka pun masuk ke hutan. Mereka hijrah untuk menghindari perang atau pertikaian. Lalu membangun lokasi pemukiman baru di tengah hutan sebagai surga barunya. Sejak itulah, mereka disebut sebagai “to wana” yang berarti “orang hutan”.</p>
<p>Ketika Belanda masuk pulau Sulawesi, mereka juga menjadi sasaran pengejaran untuk memeluk agama Kristen sambil memenuhi kewajiban membayar pajak. Padahal, lokasi pemukiman mereka tergolong jauh dari hiruk-pikuk keramaian. Tapi, siapa yang menyangka, mereka masih menjadi buruan. Lagi-lagi, mereka menolak. Sehingga, mereka pun terus bergerak makin masuk ke dalam hutan. Dan, benar-benar menjadikan pedalaman hutan sebagai surganya.</p>
<p>Bahkan, setelah Pemerintah Indonesia berdaulat secara penuh, ternyata mereka tetap merasa tidak merdeka. Karena, kedatangan aparat pemerintah yang membujuknya untuk bermukim di luar hutan, mereka anggap tidak menarik lagi. Terlebih lagi, bujukan itu dibarengi dengan pamrih, agar mereka menganut keyakinan yang diakui oleh pemerintah. Maka, hanya dengan berpindah tempat – lebih jauh dan dalam lagi ke tengah hutan – yang menjadi pilihan. Dan seperti biasa, di tempat baru itulah, mereka membangun surga untuk komunitasnya.</p>
<p>Keyakinan mereka disebut Khalaik. Mereka akan mengucilkan warganya, bila didapati memeluk agama di luar Khalaik. Semboyan mereka; tare kampung (tanpa kampung), tare agama (tanpa agama), dan tare pamarentah (tanpa pemerintah). Semboyan bisa dikatakan merupakan “piagam hijrah” mereka, untuk menegaskan; mereka tidak mengakui pemerintah apa pun, tidak menganut agama pun di luar Khalaik, dan tidak membangun perkampungan. Artinya, selamanya mereka akan menjadi komunitas adat yang bermukim di tengah hutan, dan tidak bersangkut-paut dengan masyarakat lain. Termasuk, pemerintah.</p>
<p>Satu dari sekitar 2000 jiwa warga suku Wana itu adalah Om Jima. Ia merupakan kepala suku (basoli) warga suku Wana di Desa Maosangke. Meskipun bernama desa, jangan berpikir posisinya berada di luar hutan dan dekat dengan modernitas. Karena, desa itu benar-benar jauh, terisolir dari peradaban, dan butuh waktu sekitar empat hari untuk menjangkaunya.</p>
<p>Pada tahun 2006 kemarin, paling tidak usia Om Jima sekitar 70 tahun. Karena itu, ia juga mengalami kerumitan dan drama perpindahan dari pesisir ke hutan. Lalu, bergeser ke hutan yang lebih dalam. Lantas, berhijrah lagi ke tengah hutan yang lebih jauh. Sehingga, ia juga pahami, bagian-bagian hutan mana saja di pedalaman Taman Nasional Morowali tersebut, yang pernah menjadi surganya. Artinya, ia juga merupakan pembutian perjalanan berpasrah diri atau bertawakal warga suku Wana.</p>
<p>Di lokasi pertamanya di kawasan pesisir, warga suku Wana merupakan kelompok masyarakat yang rukun dan damai, serta biasa berinteraksi dengan warga suku lain. Singkatnya, lokasi tersebut merupakan surga bagi mereka. Dan membentangnya surga nyata di alam dunia tersebut, tak bisa dipungkiri lagi, sebagai bentuk kemuliaan orang-orang yang senantiasa bersabar dan bersyukur.</p>
<p>Warga suku Wana, seperti masyarakat adat lainnya, merupakan kumpulan orang-orang yang tidak terlalu banyak mengumbar nafsu duniawi. Mereka mengantungkan hidup sepenuhnya pada alam. Mereka syukuri segala apa yang didapat dan diberikan alam dengan penuh kenikmatan. Karena, sangat mustahil masalah-masalah besar berkembang di tempat seperti itu. Sebaliknya, kemuliaan dan kesejahteraan yang didapat oleh mereka.</p>
<p>Karena itu, seperti juga warga suku Talang Mamak, mereka tidak mengenal kata “bersabar”. Yang ada hanyalah senantiasa bersyukur dan terus bersyukur. Pondasi bersabarnya memang sudah lama ditanam, sehingga kekokohannya benar-benar teruji. Dan dengan kekokohannya itulah sanggup menopang dinding bersyukur nan tegar.</p>
<p>Kokohnya pondasi sabar dan dinding syukur itu, kian terbukti, ketika mereka mendapat tantangan dari Kesultanan Islam yang menghampiri desanya. Demi menghindari pertumpahan darah dan kesengsaraan panjang bagi mereka, maka perlawanan yang diberikan hanyalah dengan berpindah. Kepindahan itu merupakan bukti, mereka memilih mengalah atau bertawakal. Berpasrah diri atas setiap tantangan, cobaan, atau ujian, merupakan bentuk kemuliaan yang dimiliki orang-orang yang senantiasa bersabar dan bersyukur.</p>
<p>Uniknya, ujian-ujian mengalah itu terus saja berdatangan. Seakan, Om Jima dan kawan-kawan merupakan sasaran empuk untuk diuji ketawakalannya. Dan hebatnya, mereka terus istiqomah untuk terus mengalah. Melawan setiap tantangan dengan memasrahkan kepada Yang Mahakuasa. Lalu, tanpa banyak cerita, mereka pun membangun surga baru. Surga yang sebenar-benarnya surga.</p>
<p>Dan, ketika Om Jima memproklamirkan keinginan warganya untuk tare kampung (tanpa kampung), tare agama (tanpa agama), dan tare pamarentah (tanpa pemerintah), maka itu sama artinya dengan tekad untuk mengatur jarak dengan persoalan-persoalan duniawi. Persisnya, masalah-masalah yang bisa menganggu perjalanan batinnya yang telah menncapai tahapan bertawakal. Tekad untuk mengatur jarak dengan keinginan dan hawa nafsu sama maknanya dengan berzuhud.[]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/etnofilm.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/etnofilm.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/etnofilm.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/etnofilm.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/etnofilm.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/etnofilm.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/etnofilm.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/etnofilm.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/etnofilm.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/etnofilm.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/etnofilm.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/etnofilm.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/etnofilm.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/etnofilm.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/etnofilm.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/etnofilm.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=etnofilm.wordpress.com&amp;blog=3649580&amp;post=4&amp;subd=etnofilm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/07/suku-wana-morowali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/485a6dc0e6d3815c59af1de16a92b894?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">etnofilm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PAK KATAK, WARGA SUKU TALANG MAMAK</title>
		<link>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/07/suku-talang-mamak-pak-katak-bukit-30/</link>
		<comments>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/07/suku-talang-mamak-pak-katak-bukit-30/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 May 2008 07:37:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>etnofilm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunitas Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Bukit Tigapuluh]]></category>
		<category><![CDATA[Pak Katak]]></category>
		<category><![CDATA[Suku Talang Mamak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://etnofilm.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Suku Talang Mamak merupakan satu dari suku-suku terasing yang mendiami wilayah Taman Nasional Bukit Tigapuluh di perbatasan provisi Riau dan Jambi. Masyarakat adat tersebut tergolong Proto Melayu atau Melayu Tua. Saat ini populasi mereka sekitar 6500 jiwa, dan sekitar 900 jiwa di antaranya bermukim di dalam kawasan Taman Nasional. Warga Suku Talang Mamak kerap menyebut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=etnofilm.wordpress.com&amp;blog=3649580&amp;post=3&amp;subd=etnofilm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Suku Talang Mamak merupakan satu dari suku-suku terasing yang mendiami wilayah Taman Nasional Bukit Tigapuluh di perbatasan provisi Riau dan Jambi. Masyarakat adat tersebut tergolong Proto Melayu atau Melayu Tua. Saat ini populasi mereka sekitar 6500 jiwa, dan sekitar 900 jiwa di antaranya bermukim di dalam kawasan Taman Nasional.</strong></p>
<p>Warga Suku Talang Mamak kerap menyebut dirinya suku Taha, atau kerap juga menyebut dirinya sebagai Langkah Lama. Mereka meyakini Adat Talang Mamak sebagai agama kepercayaan warganya. Dan, mereka akan menyebutkan suku Melayu atau Langkah Baru bagi warga suku Talang Mamak yang menganut agama di luar kepercayaannya.</p>
<p><span id="more-3"></span></p>
<p>Suku Talang Mamak teramat dekat dengan hutan. Catatan antropologi memang menempatkannya sebagai orang yang senantiasa bermukim di tengah hutan. Sejak zaman para leluhurnya. Karena itu, kerap mereka menyebut dirinya dengan istilah “awak Urang Utan”. Karena, mereka menggantungkan semua kebutuhan hidupnya dari hutan. Mereka manfaatkan apa-apa yang ada di dalam hutan, untuk mencukupi hajat hidupnya. Hutan adalah surga nan tiada tara bagi mereka.</p>
<p>Di tengah surga yang dibangun ratusan tahun itu, sudah pasti, berkumpul individu-individu yang memahami betul makna bersabar dan bersyukur. Kata “bersabar”, bisa jadi, bukan menjadi kosa kata yang tidak terlalu popular atau sering diucapkan oleh mereka. Karena, mereka memang bukan orang-orang yang terlahir dengan jutaan keinginan, cita-cita, apalagi ambisi. Sehingga, mereka tidak perlu memikirkan persaingan atau kompetisi, serta akibat-akibatnya. Tapi, menggulirkan saja kehidupan dengan kesahajaan.</p>
<p>Sebaliknya, mereka justru begitu lekat dengan kata “bersyukur”. Pondasi bangunan hati mereka adalah bersyukur. Karena, mereka terlahir dan senantiasa dididik untuk menerima anugerah apa pun sebagai rezeki yang harus disyukuri. Penyerahan diri secara penuh kepada alam merupakan bukti ungkapan terima kasih dan syukur kepada Yang Mahamelimpahkan rezeki. Dan dengan pondasi bersyukur itu, mereka membentangkan kemuliaan bagi setiap warganya. Serta, tentu saja, menikmati surga yang telah disediakan olehNya.</p>
<p>Satu dari ratusan warga suku Talang Mamak yang harus senatiasa bersyukur itu adalah Pak Katak. Umurnya sekitar 70 tahun. Ia merupakan Kepala Dusun Datai di Kawasan Keritang, pedalaman Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Dan, ia pun merupakan kemantan (dukun) bagi warganya. Singkatnya cerita, Dusun Datai adalah surga bagi Pak Katak dan warga suku Talang Mamak lainnya.</p>
<p>Namun jangan membayangkan lokasinya dekat dan mudah dijangkau. Paling tidak dibutuhkan waktu dua hari dengan perjalanan kaki untuk mencapainya. Itu pun harus siap menanggung medan berat di lahan-lahan eks pembalakan atau hutan yang masih perawan. Dan, hanya dengan kenekatan yang teramat-sangat, kita bisa mendapati kehidupan suku Talang Mamak di tempat tersebut.</p>
<p>Namun, jauh sebelum surga yang sekarang terbentang, Pak Katak dan warganya juga pernah dihadang persoalan besar juga. Persisnya, ketika para pemegang HPH “menguliti” hutannya. Atas nama kepentingan kelompok tertentu dan dengan kekuasaan yang dasyat, mereka menggusur lokasi-lokasi pemukiman warga suku Talang Mamak dengan suka cita. Pak Katak dan warganya termasuk salah satu korbannya.</p>
<p>Sebagai masyarakat adat yang memang terbiasa untuk bersyukur, maka ujian itu pun tetap saja dianggapnya anugerah. Tidak ada kata cobaan, ujian, teguran, atau hidayah. Tapi, hanya ada dua kata yang selalu mereka ingat dan diucapkan “anugerah” dan “rezeki”. Karena itu, mereka pun tidak berpikir terlalu pelik atas “anugerah” yang didapatnya itu. Mereka lebih memilih menghindar ke lokasi lain sebagai reaksi atas peristiwa tersebut.</p>
<p>Setelah itu, mereka pun membangun surga baru di lokasi yang didatanginya, dengan pola hidup yang tidak berubah; tetap menggantungkan segala-galanya pada hutan. Serta merangkai kembali pondasi-pondasi bersyukur di setiap bangunan hati. Pak Katak dan warganya memang hanya memiliki bahan baku “bersyukur”. Dan, hanya dengan bahan baku itulah ia membangun kemuliaan dan surga.</p>
<p>Di masa sekarang, mereka sudah makin terbuka dengan warga di luar sukunya. Mereka sudah bisa berhubungan dengan masyarakat di wilayah atau para pendatang yang menyinggahi kampung mereka. Mereka memang masyarakat yang ramah dan mudah berinteraksi dengan siapa pun.</p>
<p>Setiap pagi, kaum lelaki di Dusun Datai – termasuk pak Katak – pergi ke dalam hutan, untuk mengumpulkan jernang atau gaharu, atau berladang. Kelak hasil bumi tersebut dijual ke desa lain. Setelah itu, hasilnya mereka gunakan untuk melengkapi kebutuhan sehari-hari. Terutama, lauk-pauk.</p>
<p>Meskipun sebagian besar hidupnya bergantung pada hutan, ternyata mereka memegang teguh amanah untuk menjaga bagian-bagian tertentu sebagai kawasan terlarang. Maksudnya, adalah menjaga keseimbangan ekosistem dan memelihara makna kearifan lokal. Mereka memang menyerahkan jiwa-raganya pada hutan. Sebuah bentuk kepasrahan nan tiada tara. []</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/etnofilm.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/etnofilm.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/etnofilm.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/etnofilm.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/etnofilm.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/etnofilm.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/etnofilm.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/etnofilm.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/etnofilm.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/etnofilm.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/etnofilm.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/etnofilm.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/etnofilm.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/etnofilm.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/etnofilm.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/etnofilm.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=etnofilm.wordpress.com&amp;blog=3649580&amp;post=3&amp;subd=etnofilm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/07/suku-talang-mamak-pak-katak-bukit-30/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/485a6dc0e6d3815c59af1de16a92b894?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">etnofilm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AMMATOA, PEMIMPIN SUKU KAJANG</title>
		<link>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/06/ammatoa-suku-kajang/</link>
		<comments>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/06/ammatoa-suku-kajang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 May 2008 07:43:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>etnofilm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunitas Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Ammatoa]]></category>
		<category><![CDATA[Suku Kajang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://etnofilm.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Dongeng yang berkembang di tengah komunitas suku Kajang; dulu langit dan bumi menyatu berbentuk tetampah (pattapi). Ketika manusia pertama (mula tauna) muncul di tempat ini, langit dan bumi terpisah. Peristiwa itulah yang mengilhami penamaan “kajang” yang berarti “memisahkan”. Beberapa artefak dan andesit di tempat ini menunjukkan, kawasan ini pernah menjadi sentral upacara adat suku Kajang. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=etnofilm.wordpress.com&amp;blog=3649580&amp;post=6&amp;subd=etnofilm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Dongeng yang berkembang di tengah komunitas suku Kajang; dulu langit dan bumi menyatu berbentuk tetampah (pattapi). Ketika manusia pertama (mula tauna) muncul di tempat ini, langit dan bumi terpisah. Peristiwa itulah yang mengilhami penamaan “kajang” yang berarti “memisahkan”. Beberapa artefak dan andesit di tempat ini menunjukkan, kawasan ini pernah menjadi sentral upacara adat suku Kajang.</strong></p>
<p>Suku Kajang bermukim di areal pemukiman di Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba – sekitar 250 kilometer dari Makassar, Sulawesi Selatan. Menurut tempat mukimnya, suku Kajang terbagi dalam dua kelompok; suku Kajang Luar dan suku Kajang Dalam.</p>
<p><span id="more-6"></span></p>
<p>Suku Kajang Dalam mendiami tujuh dusun di dalam lingkungan Desa Tana Toa. Pusat kegiatan komunitas adatnya berada di Dusun Benteng. Rumah Ammatoa (pemimpin adat suku Kajang) juga berada di tempat ini; sebuah rumah panggung yang seluruh bagiannya dibuat dari bahan kayu. Bangunan sederhana yang menjadi simbol prinsif kesederhanaan.</p>
<p>Sejak dipilih sebagai pemimpin adat, Ammatoa memang harus memperlihatkan simbol-simbol kesederhanaan itu. Ia harus tinggalkan pernik-pernik kehidupan mewah dan modern, dan memberi teladan kepada warganya; bagaimana seharusnya pemimpin bersikap dan berprilaku di setiap bidang kehidupan. Setiap hari, ia harus memakai pakaian adat suku Kajang; baju, kain, dan ikat kepala, berwarna hitam. Dulu, seluruh warga suku Kajang berpakaian seperti itu. Ada makna filosofis di balik pilihan warna ini – simbol kesederhanaan, sisi gelap, dan peringatan akan kematian.</p>
<p>Di saat sekarang, hanya Ammatoa dan para pemuka adat yang tetap berpakaian hitam dan menjauhi kehidupan modern. Sementara warga suku Kajang lain hanya mengenakan pakaian adat di upacara adat atau menghadap Ammatoa.</p>
<p>Warga suku Kajang percaya, Ammatoa merupakan orang yang dipilih oleh Turie A’ra’na (Yang Mahakuasa) sebagai pembimbing dan pengarah kehidupan sesuai Pandangan Patuntung. Sehingga, mereka pun benar-benar menjaga kesucian tokoh adat itu. Dan, tidak seorang pun diperkenankan merekam wajahnya. Pantangan terbesar di lingkungan Tana Toa.</p>
<p>Suku Kajang disebut-sebut beragama Patuntung atau tuntunan. Belakangan, mereka juga memeluk agama Islam. Namun pada prakteknya, cara hidup dengan Pandangan Panuntung yang mengkiblatkan diri pada Passang Ri Kajang (pesan-pesan suku Kajang), yang dijadikan pijakan. Yakni, prinsif hidup prihatin dan apa adanya atau kesederhanaan (kemase-masae). []</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/etnofilm.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/etnofilm.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/etnofilm.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/etnofilm.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/etnofilm.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/etnofilm.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/etnofilm.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/etnofilm.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/etnofilm.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/etnofilm.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/etnofilm.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/etnofilm.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/etnofilm.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/etnofilm.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/etnofilm.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/etnofilm.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=etnofilm.wordpress.com&amp;blog=3649580&amp;post=6&amp;subd=etnofilm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/06/ammatoa-suku-kajang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/485a6dc0e6d3815c59af1de16a92b894?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">etnofilm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SAIDI, PUANG MATOWA BISSU</title>
		<link>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/05/saidi-puang-matowa-bissu/</link>
		<comments>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/05/saidi-puang-matowa-bissu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 May 2008 08:04:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>etnofilm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunitas Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Bissu]]></category>
		<category><![CDATA[Puang Matowa Bissu]]></category>
		<category><![CDATA[Saidi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://etnofilm.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Pada zamannya, Bissu memiliki tempat terhormat di tengah masyarakat suku Bugis. Karena, selain pemimpin religius dengan segala kemampuan supranaturalnya, ia juga merupakan penasihat raja. Maka, status sosialnya pun melambung ke angkasa. Dan, hal itu membuat kalangan waria (calabai) atau kalangan gender bissu sendiri, tidak merasa jengah untuk bergabung dengan komunitas tersebut. Bissu bukan hanya simbol [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=etnofilm.wordpress.com&amp;blog=3649580&amp;post=12&amp;subd=etnofilm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pada zamannya, Bissu memiliki tempat terhormat di tengah masyarakat suku Bugis. Karena, selain pemimpin religius dengan segala kemampuan supranaturalnya, ia juga merupakan penasihat raja. Maka, status sosialnya pun melambung ke angkasa. Dan, hal itu membuat kalangan waria (calabai) atau kalangan gender bissu sendiri, tidak merasa jengah untuk bergabung dengan komunitas tersebut.</strong></p>
<p>Bissu bukan hanya simbol sistem budaya yang berkembang di pulau Sulawesi tempo dulu. Tapi, ia juga merupakan bukti adanya keyakinan praislam yang dianut warga suku Bugis. Bahkan, ketika Islam diperkenalkan dan menjadi keyakinan utama seluruh lapisan masyarakat, Bissu tetap menjadi tempat. Bahkan, ketika gempuran fanatik DI/TII pimpinan Kahar Muzakar mengancam kelangsungan komunitas itu pada tahun 60-an, diam-diam Bissu tetap mendapat perlindungan. Buktinya, hingga kini kalangan Bissu tetap diterima secara budaya dan keyakinan. Satu sisi masyarakat memeluk Islam secara taat, tapi di sisi lain mereka kerap berhubungan dengan Bissu dengan berbagai tujuan. Sinkretisme, maksudnya.</p>
<p><span id="more-12"></span></p>
<p>Sejarah mendebarkan kejayaan dan kehancuran Komunitas Bissu itu benar-benar dijalani seorang Saidi. Karena hal itulah, ketika kita membicarakan Komunitas Bissu, maka kalangan peneliti atau antropolog biasanya langsung memghubungkannya dengan sang Puang Matowa Saidi.</p>
<p>Sesuai suratan hidup, perjalanan waktu pun perlahan-lahan membimbingnya memasuki “ruang” Bissu. Konsekuensinya, ia pun mesti meninggalkan seluruh simbol dan gairah keperempuanannya. Karena, ia pun merasa ditakdirkan untuk merengkuh gender diri yang sebenarnya, yakni bissu. Kesadaran itulah yang membuatnya tidak pernah berpikir terlalu lama, untuk menekadkan diri menjadi Bissu Lolo.</p>
<p>Singkat cerita, ia pun menjadi Bissu. Seiring dengan itu, kemuliaan dan kejayaan menaburi kehidupannya. Masa keemasan sebagai “orang istana” memang memberikan kebanggaan tersendiri baginya. Karena, kenyataan membuktikan, ia telah menjadi kaum “waria” terhormat. Sehingga, sebagai “lelaki”, ia pun tidak perlu bekerja keras di sawah atau di ladang. Fasilitas kependetaan itu memberikan kehormatan dan materi yang memadai pada zamannya.</p>
<p>Petaka gempuran kelompok DI/TII, akhirnya ikut menghancurkan surganya. Ia termasuk orang yang diburu, untuk dimurnikan keislaman dan diberangus kesyirikannya, sekaligus dinaturalkan kelelakiannya. Rambut panjangnya dipotong habis. Bahkan, ia pun harus meraih cangkul dan pergi ke sawah. Tidak ada lagi calabai, calalai, atau bissu. Karena, Islam hanya mengenal lelaki atau perempuan. Maka, masa keemasan sang Bissu pun berakhir sudah.</p>
<p>Benarkah cerita tentang Saidi sudah habis?</p>
<p>Kenyataannya, ternyata tidak begitu. Saidi tetap Saidi. Sang Bissu tetap sang Bissu. Dalam keadaan apa pun, ia tetap menjaga peran dan anugerah bissu. Untungnya lagi, masyarakat di lingkungannya pun ternyata tidak bisa memisahkan diri dari “kebesaran” para leluhur. Sehingga, Bissu pun senantiasa mendapat tempat. Meskipun di ruang yang sudah semakin sempit.</p>
<p>Kesungguhan Saidi menjaga kebissuannya, pada akhirnya berbuah mutiara. Bergesernya waktu, beralihnya zaman ke masa yang lebih terbuka, dan kebutuhan untuk mengakui warisan budaya, maka posisi Bissu pun melonjak kembali. Bahkan, Saidi diangkat sebagai Puang Matowa Bissu – posisi tertinggi dalam Komunitas Bissu Segeri. Sebagai Duta Budaya, ia pun disertakan dalam pementasan teater “La Galigo” di berbagai negara. Sebagai pendeta, ia pun tidak ragu-ragu lagi memimpin ritual-ritual yang masih dipelihara masyarakat suku Bugis. Dengan begitu, rona sinkretisme pun diperlihatkannya secara sempurna dan tanpa keraguan.</p>
<p>Ia kubur cerita pahit penghinaan teman-teman dan masyarakat, ketika ia menampilkan kewariaannya di masa remaja. Ia tutup cerita buruk pemberangusan Komunitas Bissu dan perlakukan buruk terhadapnya pada masa DI/TII dulu. Tapi, ia kuatkan hati untuk terus menapaki kebissuannya.[]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/etnofilm.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/etnofilm.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/etnofilm.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/etnofilm.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/etnofilm.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/etnofilm.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/etnofilm.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/etnofilm.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/etnofilm.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/etnofilm.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/etnofilm.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/etnofilm.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/etnofilm.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/etnofilm.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/etnofilm.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/etnofilm.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=etnofilm.wordpress.com&amp;blog=3649580&amp;post=12&amp;subd=etnofilm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/05/saidi-puang-matowa-bissu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/485a6dc0e6d3815c59af1de16a92b894?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">etnofilm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SLAMET GUNDONO, DALANG WAYANG SUKET</title>
		<link>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/04/slamet-gundono-wayang-suket/</link>
		<comments>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/04/slamet-gundono-wayang-suket/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 May 2008 08:01:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>etnofilm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seniman Tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[Wayang Suket]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://etnofilm.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Slamet Gundono adalah dalang ternama dari Tegal, yang mempopulerkan Wayang Suket – wayang yang terbuat dari rumput. Dengan kreativitasnya, dalang yang bertubuh tambun itu, memadukan keterampilan mendalang, berteater, dan bermusik, sambil memainkan lakon-lakon pewayangan klasik yang diaktualkan dengan peristiwa nyata. Sehingga, suket yang hakekatnya hanyalah tanaman liar, di tangannya menjelma menjadi tokoh-tokoh atau karakter-karakter yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=etnofilm.wordpress.com&amp;blog=3649580&amp;post=11&amp;subd=etnofilm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Slamet Gundono adalah dalang ternama dari Tegal, yang mempopulerkan Wayang Suket – wayang yang terbuat dari rumput. Dengan kreativitasnya, dalang yang bertubuh tambun itu, memadukan keterampilan mendalang, berteater, dan bermusik, sambil memainkan lakon-lakon pewayangan klasik yang diaktualkan dengan peristiwa nyata. Sehingga, suket yang hakekatnya hanyalah tanaman liar, di tangannya menjelma menjadi tokoh-tokoh atau karakter-karakter yang memiliki pikiran dan jiwa.</strong></p>
<p>Secara harafiah, suket dalam bahasa Jawa berarti rumput alias tanaman liar, yang bisa tumbuh di mana saja. Teman abadinya adalah tanah, air, dan siraman cahaya matahari. Ketika tersedia lahan kosong, ketika air dan cahaya matahari membelai benihnya penuh kasih, maka suket pun akan tumbuh dan berkembang sebebas-bebasnya. Bahkan, ketika ada tangan-tangan jahil membabati tubuh kurusnya, maka ia tidak akan pernah putus asa dan mati kekeringan. Tapi, ia akan bangkit kembali dan mencoba menjangkau langit.</p>
<p><span id="more-11"></span></p>
<p>Pada hakekatnya, ia tidak membutuhkan pot atau vas. Ia juga tidak membutuhkan rumah-rumah kaca untuk melindunginya. Tempat seburuk apa pun akan menjadi surga baginya. Ia juga tidak peduli wajahnya yang tidak secantik anggrek. Ia tidak peduli tubuhnya yang tidak segagah pohon jati. Tekadnya hanya satu, ia hanya ingin memperlihatkan cerianya. Niatnya hanya satu, ia ingin terus menunjukkan identitas kefloraannya. Sehingga, warna hijaunya mampu memberikan “warna” bagi sekelilingnya.</p>
<p>Lakon demi lakon senantiasa bermunculan dari mulut Slamet Gundono. Namun, hakekat lakon itu sendiri, tetap saja, merupakan buaian moral yang diselimuti pakem pewayangan, musik, nyanyian, dan bebodoran. Ia manfaatkan kehadiran pemusik atau nayaga dan pemain pendukung lain secara maksimal. Sehingga wayang-wayang yang dibuat dari rumput itu “dikawinkan” dengan manusia secara sempurna. Bahkan, ia juga senantiasa memanfaatkan suket sebagai asesoris utama pada topi, pakaian, atau properti pementasan.</p>
<p>Keberanian Slamet Gundono menanamkan “roh” ke dalam suket bukan tanpa sebab. Melalui medium suket, sebenarnya ia tengah bermain-main dengan berbagai tafsiran penokohan. Suket bisa menjelma menjadi sosok apa saja; raja, permaisuri, selir, patih, jenderal, prajurit, punakawan, rakyat jelata, atau tukang becak. Karakter yang ditampilkan juga bisa bijaksana, adil, lalim, garang, lembut, kenes, bahkan gemulai seperti kaum waria. Pokoknya, ia bisa menjadi tokoh protogonis atau antagonis.</p>
<p>Tujuannya, sebenarnya sederhana saja. Ia hanya ingin penonton mau berpikir soal hakekat suket yang sebenarnya; suket adalah manusia dan manusia adalah suket. Tidak ada bedanya. Keduanya menyatu dalam satu wadag dan karakter. Semiotik yang ingin diraih melalui berbagai penokohan itu mengarah pada hakekat suket itu sendiri; tanaman liar yang semula dianggap tidak berguna, ternyata setelah diresapi kehadiran, peran, dan fungsinya, ternyata memiliki juga faedah. Karena, pada dasarnya, ia bukan sekedar rumput ilalang.</p>
<p>Di luar kreativitasnya “mengutak-atik” suket sebagai kesenian tradisional, Ki Slamet Gundono pun paham betul akan pesan-pesan tersirat dari setiap wayang suket-nya. Dari ayunan dan sabetan tangannya, ia ingin menegaskan bahwa suket adalah pesan-pesan sederhana yang bisa menjelma menjadi mutiara. Namun mutiara itu bisa didapat, jika penikmat Wayang Suket tersebut memiliki kecerdasan dan kejernihan hati! []</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/etnofilm.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/etnofilm.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/etnofilm.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/etnofilm.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/etnofilm.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/etnofilm.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/etnofilm.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/etnofilm.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/etnofilm.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/etnofilm.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/etnofilm.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/etnofilm.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/etnofilm.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/etnofilm.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/etnofilm.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/etnofilm.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=etnofilm.wordpress.com&amp;blog=3649580&amp;post=11&amp;subd=etnofilm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/04/slamet-gundono-wayang-suket/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/485a6dc0e6d3815c59af1de16a92b894?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">etnofilm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RASINAH, PENARI TOPENG INDRAMAYU</title>
		<link>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/03/rasinag-penari-topeng/</link>
		<comments>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/03/rasinag-penari-topeng/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 May 2008 07:52:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>etnofilm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seniman Tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[Tari Topeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://etnofilm.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Mimi Rasinah adalah seorang Penari Topeng Indramayu ternama. Bahkan, namanya pun sudah dimasukkan dalan kategori maestro. Karena, nenek berusia 80 tahun itu telah memperlihatkan dedikasi yang begitu tinggi terhadap kesenian tradional itu. Ia bukan hanya menari dengan rupa topeng-topeng yang selalu berganti di wajahnya. Tapi, ia juga menyebarkan inspirasi bagi orang lain untuk mencintai Tari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=etnofilm.wordpress.com&amp;blog=3649580&amp;post=10&amp;subd=etnofilm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mimi Rasinah adalah seorang Penari Topeng Indramayu ternama. Bahkan, namanya pun sudah dimasukkan dalan kategori maestro. Karena, nenek berusia 80 tahun itu telah memperlihatkan dedikasi yang begitu tinggi terhadap kesenian tradional itu. Ia bukan hanya menari dengan rupa topeng-topeng yang selalu berganti di wajahnya. Tapi, ia juga menyebarkan inspirasi bagi orang lain untuk mencintai Tari Topeng Indramayu.</strong></p>
<p>Rasinah lahir di Desa Pekandangan, Indramayu, Jawa Barat. Kedua orangtuanya juga seniman. Karena itu, darah seni pun menucur deras di dalam nadinya. Sejak kecil ia telah diajari menari lengkap dengan aturan-aturan “mistis”nya. Bahkan, ia pun telah “diamenkan” di panggung-panggung hajatan (bebarang), untuk menegaskan suratan hidupnya yang seniman.</p>
<p><span id="more-10"></span></p>
<p>Masa kanak-kanak dan remaja Rasinah hanyalah tarian. Gejolak hidup Rasinah muda hanyalah panggung-panggung hajatan, lengkap dengan suara tetabuhannya. Sehingga, di luar Tari Topeng Indramayu, sungguh ia bukanlah apa-apa. Ia adalah cerminan “anak wayang” yang sepanjang hidupnya lebih diberikan untuk panggung dan penonton. Ia sama sekali tidak mengenal hal lain di luar dunia tersebut. Sekolah atau menikmati keceriaan seperti kaum remaja sebayanya.</p>
<p>Keteguhan Rasinah untuk terus konsisten di jalurnya bukan tidak dihadang masalah. Pergeseran selera masyarakat dari kesenian tradisional ke kesenian yang lebih modern membuat Rasinah – dan seniman tradisional pada umumnya – terkena imbas besar. Mereka kehilangan panggung-panggung hajatan, lahan untuk mengekspresikan kesenimanannya, dan tentu saja, nafkah!</p>
<p>Masa-masa sulit seperti itu dirasakan benar oleh Rasinah. Terlebih setelah ayah dan ibunya meninggal. Ia memang anak tunggal. Sehingga, ia harus menggantungkan hidupnya pada sang suami. Ia nyaris tidak memiliki kesempatan untuk menari. Lantaran tidak ada lagi yang mengundangnya.</p>
<p>Dalam kesendirian dan keterasingan, ia hanya memasrahkan hidupnya pada Yang Mahaperkasa. Ia tidak berani lagi menghitung-hitung suratan nasib di depannya. Karena, ia sadar bahwa ia hanyalah seniman tradisional, plus dengan kemampuan yang terbatas. Untuk beralih pada sumber penghidupan yang lain, ia juga merasa tidak bisa. Maka, ia pun hanya bisa menari di rumahnya sendiri. Kerap, ia menari ditemani cucunya, Aerli. Dan, dengan sisa gendang, saron, dan gong, dari ayahnya, ia juga coba ajarkan pada cucunya yang Edi. Saat itu, ia mencoba menitiskan kemampuan berkeniannya kepada kedua cucunya.</p>
<p>Cara itu ditempuh oleh Rasinah, agar ia tetap memiliki semangat untuk menari. Di benaknya hanya terlintas satu niat, agar hidup yang pahit itu bisa dijalani dengan keceriaan sambil membagi-baginya kepada orang terdekat. Tari Topeng Indramayu adalah satu-satunya harta karun yang dimilikinya. Sehingga, hanya dengan “benda” itulah ia bisa mewariskannya kepada keturunannya.</p>
<p>Bangunan semangat untuk bertahan dan berbagi, serta kepasrahan untuk menyerahkan segala-galanya kepada Dzat Yang Mahasempurna, akhirnya berbuah kebahagiaan. Ketabahan dan kegigihan untuk terus berkesenian secara bersahaja membuahkan perhatian pihak lain. Ia percaya bahwa orang yang tiba-tiba memedulikan dirinya dan Tari Topeng Indramayunya adalah tangan-tangan Tuhan. Ya, cerminan sifat rahman dan rahimNya.</p>
<p>Minat kalangan pemerhati kesenian tersebut yang bertekad merevitalisasi kesenian Tari Topeng Indramayu menebarkan manisnya juga untuk Rasinah. Ia pun diminta untuk menari di berbagai tempat. Bukan sekedar panggung-panggung hajatan di kampung-kampung. Tapi, termasuk juga pentas-pentas di gedung-gedung kesenian di kota besar, di dalam dan luar negeri. Luar biasa!</p>
<p>Gubuk yang tadinya nyaris runtuh karena tidak pernh mendapat perhatian, perlahan-lahan ia bangun kembali. Bahkan, ia pun berhasil membangun sanggar sederhana di salah satu sudut rumahnya. Teman berlatihnya pun bukan hanya Aerli, cucunya. Tapi, anak-anak lain berdatangan untuk meminta juga “harta karun” yang dimiliknya. Seiring dengan itu, panggilan-panggilan untuk menari pun tidak pernah lagi berhenti.</p>
<p>Maka, Rasinah yang oleh murid-muridnya dipanggil Mimi (nenek) telah mendapati kegemilangan nan tiara di hari tuanya. Ia bisa tersenyum bahagia saat meyakini bahwa keteguhannya mendalami Tari Topeng Indramayu membuahkan panen besar. Ia bisa tertawa gembira saat mensyukuri bahwa kesungguhan mengawal kesenian tradisional itu memberikan manfaat tak terhingga. Sehingga, ia pun bisa melupakan kepahitan dan rintangan yang selama menempa perjalanan berkesenianannya dan kehidupan nyatanya.</p>
<p>Kita bisa mengatakan apa yang terjadi pada Mimi Rasinah karena keterpaksaan. Ia terpaksa bertahan dengan kemiskinan dan kepapaannya sebagai seniman tradional, karena ia tidak memiliki kemampuan lain. Ia terus menekenuni Tari Topeng Indramayu karena tidak ada pilihan lain. Pendapat itu tidak salah. Sama sekali tidak salah.</p>
<p>Tapi, fakta juga berbicara, dengan kemiskinan dan kepapaan itu justru ia terus menari. Padahal ia tidak lagi mendapat panggilan dan memiliki panggung tetap. Ia menari untuk dirinya sendiri dan di “panggung” yang teramat sempit di dalam gubuknya. Ia juga menari sambil membagi “kesenimannya” pada orang terdekat. Kedua hal itu merupakan pertanda kesungguhan untuk mempertahankan hidup dan terus berbagi.</p>
<p>Rasinah laksana setangkai suket (rumput). Suket tidak menyesali kemiskinan, kepapaan, dan kenyataan diri, yang memang berada di bawah. Ia terus bersemangat, bersungguh-sungguh, dan tabah, untuk memulai mengisi pagi. Bahkan, dengan “panggung” yang teramat sederhana, ia terus “berkesenian”. Dan, dengan suka-cita, rona hijau ditebarkan ke sekelilingnya. Ia bertahan dan memberi. Sebuah ajaran cinta terdalam, yang tidak lagi berpikir tentang keberadaan diri dan imbalan atas penebaran cinta itu sendiri.</p>
<p>Yang dilakukan Rasinah saat persoalan-persoalan hidup memburunya tanpa henti adalah memasrahkannya kepada Yang Mahamemberi. Keluh-kesah, penyesalan, putus asa, apatis menghadapi hidup, justru hanya akan menyurut semangat bertahan dan kesungguhan memberi. Sehingga, tanpa proklamasi dan pengumuman yang berlebih, ia memang menunjukkan kebangkitannya sebagai khalifah. Tanpa berpikir tentang hakekat hijrah nurani yang sering diungkap oleh Kalangan Sufi, ia justru telah melakukannya dengan istiqomah.</p>
<p>Kebangkitan itu sendiri tidak identik dengan pelarian atas kepungan masalah atau kemadekan karier. Tapi, “pribadi nan tercerahkan” adalah pilihan lain dari hidup ini. Siapa pun boleh hidup dengan pilihan apanya masing-masing. Entah terus menjunjungi semangat mimpi, keinginan, cita-cita, dan ambisi, untuk meraih kebahagiaan duniawi. Atau, mencoba meraih target kebahagiaan di alam lain. Terserah saja.</p>
<p>Yang pasti, Rasinah telah memperlihatkan contoh menarik, untuk memilih pilihan yang lain. Sebuah target, yang bisa jadi, tidak lazim dan tidak popular. Tapi, bila hal itu bisa menenangkan batin, sekaligus mampu membangkitkan semangat, kesungguhan, ketekunan, dan kegigihan, untuk mendapati hidup itu sendiri, serta menikmatinya dengan penuh kemenangan.</p>
<p>Di usia senjanya sekarang, Rasinah nyaris tak bisa lagi menggerakkan tangan, menghentakkan kaki, dan memancangkan topeng di wajahnya. Bahkan, serangan stroke memaksanya untuk bolak-balik ke rumahsakit. Tragisnya, karena ketiadaan biaya, keluarganya juga berkeinginan melego topeng-topengnya(?) Satu-satunya, keperkasaan yang masih ditorehkan seorang Rasinah, di tengah ketidakberdayaannya, ia tetap memaksakan diri untuk mengawasi murid-muridnya berlatih menari. Subhanallah.</p>
<p>“Yang membuat kami terharu dan yang paling berkesan, ia pernah mengatakan bahwa ia akan mati di atas panggung,” tutur salah seorang cucunya Edi Suryadi dalam film dokumenter “dua Perempuan”. []</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/etnofilm.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/etnofilm.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/etnofilm.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/etnofilm.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/etnofilm.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/etnofilm.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/etnofilm.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/etnofilm.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/etnofilm.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/etnofilm.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/etnofilm.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/etnofilm.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/etnofilm.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/etnofilm.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/etnofilm.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/etnofilm.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=etnofilm.wordpress.com&amp;blog=3649580&amp;post=10&amp;subd=etnofilm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/03/rasinag-penari-topeng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/485a6dc0e6d3815c59af1de16a92b894?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">etnofilm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MASNAH, PENYANYI GAMBANG KROMONG</title>
		<link>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/02/masnah-gambang-kromong/</link>
		<comments>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/02/masnah-gambang-kromong/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 May 2008 07:50:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>etnofilm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seniman Tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[Gambang Kromong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://etnofilm.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Masnah atau Pang Tjin Nio adalah Gambang Kromong. Ketika namanya disebut, maka para pemerhati seni akan menghubungkannya dengan kesenian khas produk akulturasi Cina Keturunan dan Pribumi. Masnah juga tergolong maestro. Karena, nenek berusia 80 tahun itu telah memperlihatkan dedikasi yang begitu tinggi terhadap kesenian tradional itu. Ia bukan hanya satu-satunya penyanyi yang hafal lagu-lagu klasik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=etnofilm.wordpress.com&amp;blog=3649580&amp;post=9&amp;subd=etnofilm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Masnah atau Pang Tjin Nio adalah Gambang Kromong. Ketika namanya disebut, maka para pemerhati seni akan menghubungkannya dengan kesenian khas produk akulturasi Cina Keturunan dan Pribumi. Masnah juga tergolong maestro. Karena, nenek berusia 80 tahun itu telah memperlihatkan dedikasi yang begitu tinggi terhadap kesenian tradional itu. Ia bukan hanya satu-satunya penyanyi yang hafal lagu-lagu klasik (dalem) Gambang Kromong, tapi ia pun menawarkan inspirasi bagi orang lain untuk mencintai Gambang Kromong.</strong></p>
<p>Sejatinya, Masnah adalah Cina Keturunan. Karena itu, ia juga masih memelihara simbol-simbol kecinaannya. Misal, altar peribadatan di ruang tamunya dan juga praktik-praktik peribadatannya. Tapi, jika ditanya agama yang dianutnya, maka ia hanya tersenyum. Di KTP, agamanya tertulis Islam. Tapi, hatinya mengarah pada Khong Hu Chu. Meskipun demikian, ia justru tidak pernah mengunjungi vihara. Satu-satunya kunjungan ke tempat ibadah kaum Budha itu adalah ketika ia diminta filmmaker, untuk mengunjungi sebuah vihara di Pasar Lama Tangerang.</p>
<p><span id="more-9"></span></p>
<p>Masnah menekuni Gambang Kromong, bisa dikatakan, tanpa kesengajaan. Dalam film dokumenter “dua PEREMPUAN”, ia menuturkan keterlibatannya diawali dengan kematian suami dan anaknya. Dalam kegalauan dan kesendirian, ia pun memasuki kehidupan baru sebagai wayang (cokek). Setelah itu, ia pun mencoba menjadi penyanyi, dengan mempelajari langsung pada tokoh-tokoh Gambang Kromong tempo doeloe.</p>
<p>Seperti juga anak wayang di lingkungan Gambang Kromong, ia juga mengalami proses kawin-cerai-kawin-cerai. Ia memang pernah menjadi primadona di zamannya. Sehingga, ia sering menjadi bidikan tamu-tamunya di pekalangan (arena hajatan).</p>
<p>Masa remaja Masnah hanyalah lagu-lagu dalem dan sayur (popular). Gejolak hidup Masnah muda hanyalah panggung-panggung hajatan, lengkap dengan suara teh yan, gambang, kromong, dan gong. Sehingga, di luar Gambang kromong, ia bukanlah apa-apa. Ia adalah cerminan “anak wayang” yang sepanjang hidupnya lebih diberikan untuk panggung dan penonton. Ia sama sekali tidak mengenal hal lain di luar dunia tersebut.</p>
<p>Keteguhan Masnah untuk terus konsisten di jalurnya bukan tidak dihadang masalah. Situasi politik paska jatuhnya rezim Orde Lama – yang mendiskreditkan Komunitas Cina Keturunan – juga membuat Gambang Kromong benar-benar terpuruk. Di luar dampak politik, sudah pasti, dampak ekon0omi paling dirasaakan oleh mereka. Termasuk, Masnah.</p>
<p>Terlebih lagi, gempuran kesenian yang modern pun tanpa ampun, ikut melibas masa depan kesenian tradisional. Mereka kehilangan panggung-panggung hajatan, lahan untuk mengekspresikan kesenimanannya, dan tentu saja, nafkah! Pada akhirnya, Gambang kromong pun harus tampil di panggung terbatas dan tanpa perlu lagi menghadirkan lagu-lagu klasik. Karena, selera penggemar kesenian ini yang haus hiburan, memang menuntut dialunkannya lagu-lagu sayur.</p>
<p>Perubahan garis kesenian tradisional itu terjadi, ketika Ford Foundation merevitalisasi lagu-lagu klasik dan Gambang Kromong. Imbasnya, bukan hanya Masnah mendapat kesempatan untuk menurunkan ilmunya pada penyanyi-penyanyi muda. Bahkan, suaranya pun telah diabadikan dalam bentuk kaset dan CD. Tapi, undangan untuk menyanyi pun terus mengalir.</p>
<p>Maka, Masnah pun mendapati kegemilangan nan tak terkira di hari tuanya. Ia bisa tersenyum bahagia saat meyakini bahwa keteguhannya mendalami Gambang Kromong membuahkan mutiara. Ia bisa tertawa gembira saat mensyukuri bahwa kesungguhannya mengawal kesenian tradisional itu memberikan manfaat tak terhingga. Sehingga, ia pun bisa melupakan kepahitan dan rintangan yang selama menempa perjalanan berkesenianannya dan kehidupan nyatanya.</p>
<p>Kita bisa mengatakan apa yang terjadi pada Masnah karena keterpaksaan. Ia terpaksa bertahan dengan kemiskinan dan kepapaannya sebagai seniman tradional, karena ia tidak memiliki kemampuan lain. Ia terus menekenuni Gambang Kromong karena tidak ada pilihan lain. Pendapat itu tidak salah. Sama sekali tidak salah.</p>
<p>Tapi, fakta juga berbicara, dengan kemiskinan dan kepapaan itu justru ia terus bernyanyi. Padahal ia tidak lagi mendapat panggilan dan memiliki panggung tetap. Bahkan, ia tidak pernah mencoba untuk bernyanyi sendiri di rumahnya. Karena, ia bisa menyanyi bila ada musik pengiring. Selain itu, ia juga buta huruf dan tidak bisa membaca notasi. Hal itu merupakan pertanda kesungguhan untuk mempertahankan hidup dan terus berbagi.</p>
<p>Masnah laksana setangkai suket (rumput). Suket tidak menyesali kemiskinan, kepapaan, dan kenyataan diri, yang memang berada di bawah. Ia terus bersemangat, bersungguh-sungguh, dan tabah, untuk memulai mengisi pagi. Bahkan, dengan “panggung” yang teramat sederhana, ia terus “berkesenian”. Dan, dengan suka-cita, rona hijau ditebarkan ke sekelilingnya. Ia bertahan dan memberi. Sebuah ajaran cinta terdalam, yang tidak lagi berpikir tentang keberadaan diri dan imbalan atas penebaran cinta itu sendiri.</p>
<p>Yang dilakukan Masnah – seperti juga Rasinah saat persoalan-persoalan hidup memburunya tanpa henti – adalah memasrahkannya kepada Yang Mahamemberi. Keluh-kesah, penyesalan, putus asa, apatis menghadapi hidup, justru hanya akan menyurut semangat bertahan dan kesungguhan memberi.</p>
<p>Yang pasti, Masnah telah memperlihatkan contoh menarik, untuk memilih pilihan yang lain. Sebuah target, yang bisa jadi, tidak lazim dan tidak popular. Tapi, bila hal itu bisa menenangkan batin, sekaligus mampu membangkitkan semangat, kesungguhan, ketekunan, dan kegigihan, untuk mendapati hidup itu sendiri, serta menikmatinya dengan penuh kemenangan.</p>
<p>Di usia senjanya sekarang, Masnah masih bernyanyi dari satu panggung ke panggung lain. Dengan penyakit batuk kronis yang terus memburunya, dengan keterbatasan ingatan yang juga mengepungnya, ia masih berharap mendapatkan upah dan tips dari para tamu yang mendengar suaranya.</p>
<p>“Kalau encim udah nggak ada, ya nggak tahu gimana kelanjutannya. Kan encim mah nggak lagi ngeliat. Sekarang aja udah pusing ngeliatnya,” tuturnya di scene akhir babak tentang Masnah dalam film dokumenter “dua Perempuan”. []</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/etnofilm.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/etnofilm.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/etnofilm.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/etnofilm.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/etnofilm.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/etnofilm.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/etnofilm.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/etnofilm.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/etnofilm.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/etnofilm.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/etnofilm.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/etnofilm.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/etnofilm.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/etnofilm.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/etnofilm.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/etnofilm.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=etnofilm.wordpress.com&amp;blog=3649580&amp;post=9&amp;subd=etnofilm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/02/masnah-gambang-kromong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/485a6dc0e6d3815c59af1de16a92b894?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">etnofilm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KAJALI, DALANG WAYANG GARING</title>
		<link>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/01/kajali-wayang-garing/</link>
		<comments>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/01/kajali-wayang-garing/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 May 2008 07:47:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>etnofilm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seniman Tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[Kajali]]></category>
		<category><![CDATA[Wayang Garing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://etnofilm.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Wayang Garing adalah kesenian wayang kulit yang dimainkan oleh seorang dalang, tanpa didampingi sinden (penyanyi) dan nayaga (pemain musik). Ia adalah pemain tunggal. Ia menjadi dalang, ia juga menjadi sinden, dan ia juga menjadi nayaga. Tidak ada instrumen gamelan dalam pementasannya. Semua sumber suara berasal dari mulut sang dalang. Wayang Garing sebenarnya bukanlah kesenian standar. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=etnofilm.wordpress.com&amp;blog=3649580&amp;post=8&amp;subd=etnofilm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Wayang Garing adalah kesenian wayang kulit yang dimainkan oleh seorang dalang, tanpa didampingi sinden (penyanyi) dan nayaga (pemain musik). Ia adalah pemain tunggal. Ia menjadi dalang, ia juga menjadi sinden, dan ia juga menjadi nayaga. Tidak ada instrumen gamelan dalam pementasannya. Semua sumber suara berasal dari mulut sang dalang.</strong></p>
<p>Wayang Garing sebenarnya bukanlah kesenian standar. Karena, ia tidak memiliki “kelengkapan kerja” sebagaimana layaknya sebuah kelompok wayang kulit. Normalnya, kesenian tersebut menampilkan dalang, sinden, dan nayaga, sebagai subyek pertunjukan. Serta, memperlihatkan wayang, gamelan, dan panggung, sebagai media penceritaan. Namun, Wayang Garing hanya memiliki dalang dan wayang. Bahkan, panggungnya pun cenderung tidak ada.</p>
<p><span id="more-8"></span></p>
<p>Dalam konteks tersebut, maka Wayang Garing tampil menjadi kesenian tradisional yang “kesepian”. Ia bukan hanya satu-satunya kesenian tradisional yang masih bertahan. Tapi, ia juga cerminan senimannya, yang bisa jadi, hanya ada satu di tanah air ini. Ironisnya, kemeranaan itu muncul karena keterpaksaan. Wayang Garing tampil karena situasi darurat yang dihadapi oleh sang dalang. Dan, sang dalang itu adalah Kajali.</p>
<p>Kajali berasal dari Kampung Wadgalih, Desa Mendaya, sekitar 25 kilometer dari Kota Serang, Banten. Ia dilahirkan di desa itu sekitar 60 tahun yang lalu, beristri dua, dan memiliki lima orang anak.</p>
<p>Semula, ia adalah penabuh gambang di sebuah kelompok wayang kulit. Lalu, ia belajar mendalang pada Ki Madasik, sehingga ia pun bisa menjadi dalang. Pada tahun 1970, ketika ia baru saja memulai kariernya sebagai dalang, sang guru yang juga pimpinan kelompok keseniannya itu meninggal dunia. Bahkan, kelompok wayang kulit itu pun ikut bubar. Maka, ia pun menganggur. Padahal, istri dan anak-anak tetap menunggu nafkahnya.</p>
<p>Tapi, Kajali tidak diam ketika menerima kabar kematian guru mendalangnya. Karena, diam bukanlah jalan keluar terbaik. Menyesali nasib sepanjang hari hanya akan menghasilkan solusi paling buruk. Bahkan, ia pun tidak larut dalam keputusasaan saat kelompok wayang kulitnya bubar. Sebaliknya, ia jalani keterbatasan dan “situasi darurat”nya itu dengan kesabaran.</p>
<p>Dalam kesendirian, karena tidak memiliki nayaga dan gamelan, ia justru bertekad untuk tetap menekuni perjalanan kesenimanannya. Padahal, modalnya hanyalah sekarung wayang kulit, sepeda ontel, dan segudang cerita. Bahkan, instrumen musik yang dimilikinya pun hanyalah cempala dan kecrek – pengatur ketukan dan irama saat menembang. Tidak ada teman yang berminat menjadi nayaga atau sinden. Karena, saat itu, sesungguhnya ia bukan siapa-siapa. Siapa yang paham bila ia bisa mendalang?</p>
<p>Maka, tekad yang telah membaja itu menjelmakan ide, untuk memainkan wayang kulit seorang diri. Semula ia menyebut dirinya sebagai dalang tunggal. Tapi, karena banyaknya ruang kosong karena ketiadaan nyanyian dan gamelan, maka orang-orang menyebutnya “garing”. Sejak itulah, lahirlah sebuah kesenian baru bernama Wayang Garing!</p>
<p>Hampir setiap hari, Kajali berkeliling dari satu kampung ke kampung lain, dengan sepeda ontel dan sekarung wayang kulitnya. Kerap ia ngamen dari satu rumah ke rumah lain sekedar berharap mendapatkan uang recehan. Bila sedang beruntung, ia dibuatkan panggung kecil oleh warga yang didatanginya, dan bermain di hadapan penonton yang masih antuasias. Kerap juga, undangan berpentas diterimanya dari orang-orang yang memiliki hajatan.</p>
<p>Di waktu senggangnya, ketika ia tidak mendapat kesempatan mendalang, maka ia menjadi buruh tani. Ia memang sama sekali tidak memilik sawah atau lahan kosong untuk digarap. Tujuannya, tentu saja, sekedar memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Upah yang didapat hari itu, maka akan digunakan untuk makan esok hari. Begitu seterusnya.</p>
<p>Di waktu yang lain, ia akan berupaya untuk terus memainkan lakon-lakon Epos Mahabarata atau Babad Banten. Wayang Garing memang erat menyatu dengan jiwa-raganya. Sehingga, ia tidak pernah terpikir untuk “menggantungkan” wayang kulitnya sebagai hiasan. Apalagi, menjadi barang antik di dalam gudang. Tapi, ia terus kuatkan hati, untuk mengawal kesenian tradisional tersebut dengan kesabaran.</p>
<p>Tanpa terasa, paling tidak, kesenian tersebut telah bertahan lebih dari 25 tahun. Dan, Kajali tetap sebagai Kajali; dalang Wayang Garing yang tetap berkeliling dari kampung ke kampung dengan sepeda ontel-nya, berharap-harap mendapat menunggu undangan berpentas di sebuah hajatan, dan kadang bermain di panggung-panggung khusus untuk memperlihatkan kesenian tradisional yang “khas Banten”. Belakangan, kesenian tersebut memang mendapat pengakuan khusus dari pemda setempat. Sehingga, nama Wayang Garing pun seakan sejajar dengan seni pertunjukan lain. []</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/etnofilm.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/etnofilm.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/etnofilm.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/etnofilm.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/etnofilm.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/etnofilm.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/etnofilm.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/etnofilm.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/etnofilm.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/etnofilm.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/etnofilm.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/etnofilm.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/etnofilm.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/etnofilm.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/etnofilm.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/etnofilm.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=etnofilm.wordpress.com&amp;blog=3649580&amp;post=8&amp;subd=etnofilm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/01/kajali-wayang-garing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/485a6dc0e6d3815c59af1de16a92b894?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">etnofilm</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
