Jauh di pedalaman Taman Nasional Morowali, Sulawesi Tengah, bermukim sebuah suku terasing bernama suku Wana. Tidak mudah untuk mendapati keterasingan mereka. Dari Kota Kolonodale, paling tidak kita membutuhkan waktu hingga tiga hari untuk menjangkau kampung terdekat. Itu pun harus melintasi laut, sungai, dan menyusuri jalan setapak sekitar dua hari. Serta, naik-turun bukit!
Kalangan antropolog mengenal mereka sebagai masyarakat perburu-peramu. Artinya, mereka gantungkan hidupnya dengan berburu dan meramu binatang atau hewan yang didapatnya. Orang Wana dikenal memiliki keterampilan berburu dan memasang jerat hewan yang handal. Karena mengikuti pergerakan untuk memburu binatang, dulunya mereka juga rajin berpindah-pindah tempat.
Ada catatan sejarah yang menarik untuk dipaparkan.
Dulu sebenarnya warga suku Wana bermukim di kawasan pesisir. Ketika Kesultanan Islam di Pulau Sulawesi melakukan ekspansi dan memaksa mereka untuk berpindah keyakinan dan membayar upeti, mereka menolaknya. Lalu, mereka pun masuk ke hutan. Mereka hijrah untuk menghindari perang atau pertikaian. Lalu membangun lokasi pemukiman baru di tengah hutan sebagai surga barunya. Sejak itulah, mereka disebut sebagai “to wana” yang berarti “orang hutan”.
Ketika Belanda masuk pulau Sulawesi, mereka juga menjadi sasaran pengejaran untuk memeluk agama Kristen sambil memenuhi kewajiban membayar pajak. Padahal, lokasi pemukiman mereka tergolong jauh dari hiruk-pikuk keramaian. Tapi, siapa yang menyangka, mereka masih menjadi buruan. Lagi-lagi, mereka menolak. Sehingga, mereka pun terus bergerak makin masuk ke dalam hutan. Dan, benar-benar menjadikan pedalaman hutan sebagai surganya.
Bahkan, setelah Pemerintah Indonesia berdaulat secara penuh, ternyata mereka tetap merasa tidak merdeka. Karena, kedatangan aparat pemerintah yang membujuknya untuk bermukim di luar hutan, mereka anggap tidak menarik lagi. Terlebih lagi, bujukan itu dibarengi dengan pamrih, agar mereka menganut keyakinan yang diakui oleh pemerintah. Maka, hanya dengan berpindah tempat – lebih jauh dan dalam lagi ke tengah hutan – yang menjadi pilihan. Dan seperti biasa, di tempat baru itulah, mereka membangun surga untuk komunitasnya.
Keyakinan mereka disebut Khalaik. Mereka akan mengucilkan warganya, bila didapati memeluk agama di luar Khalaik. Semboyan mereka; tare kampung (tanpa kampung), tare agama (tanpa agama), dan tare pamarentah (tanpa pemerintah). Semboyan bisa dikatakan merupakan “piagam hijrah” mereka, untuk menegaskan; mereka tidak mengakui pemerintah apa pun, tidak menganut agama pun di luar Khalaik, dan tidak membangun perkampungan. Artinya, selamanya mereka akan menjadi komunitas adat yang bermukim di tengah hutan, dan tidak bersangkut-paut dengan masyarakat lain. Termasuk, pemerintah.
Satu dari sekitar 2000 jiwa warga suku Wana itu adalah Om Jima. Ia merupakan kepala suku (basoli) warga suku Wana di Desa Maosangke. Meskipun bernama desa, jangan berpikir posisinya berada di luar hutan dan dekat dengan modernitas. Karena, desa itu benar-benar jauh, terisolir dari peradaban, dan butuh waktu sekitar empat hari untuk menjangkaunya.
Pada tahun 2006 kemarin, paling tidak usia Om Jima sekitar 70 tahun. Karena itu, ia juga mengalami kerumitan dan drama perpindahan dari pesisir ke hutan. Lalu, bergeser ke hutan yang lebih dalam. Lantas, berhijrah lagi ke tengah hutan yang lebih jauh. Sehingga, ia juga pahami, bagian-bagian hutan mana saja di pedalaman Taman Nasional Morowali tersebut, yang pernah menjadi surganya. Artinya, ia juga merupakan pembutian perjalanan berpasrah diri atau bertawakal warga suku Wana.
Di lokasi pertamanya di kawasan pesisir, warga suku Wana merupakan kelompok masyarakat yang rukun dan damai, serta biasa berinteraksi dengan warga suku lain. Singkatnya, lokasi tersebut merupakan surga bagi mereka. Dan membentangnya surga nyata di alam dunia tersebut, tak bisa dipungkiri lagi, sebagai bentuk kemuliaan orang-orang yang senantiasa bersabar dan bersyukur.
Warga suku Wana, seperti masyarakat adat lainnya, merupakan kumpulan orang-orang yang tidak terlalu banyak mengumbar nafsu duniawi. Mereka mengantungkan hidup sepenuhnya pada alam. Mereka syukuri segala apa yang didapat dan diberikan alam dengan penuh kenikmatan. Karena, sangat mustahil masalah-masalah besar berkembang di tempat seperti itu. Sebaliknya, kemuliaan dan kesejahteraan yang didapat oleh mereka.
Karena itu, seperti juga warga suku Talang Mamak, mereka tidak mengenal kata “bersabar”. Yang ada hanyalah senantiasa bersyukur dan terus bersyukur. Pondasi bersabarnya memang sudah lama ditanam, sehingga kekokohannya benar-benar teruji. Dan dengan kekokohannya itulah sanggup menopang dinding bersyukur nan tegar.
Kokohnya pondasi sabar dan dinding syukur itu, kian terbukti, ketika mereka mendapat tantangan dari Kesultanan Islam yang menghampiri desanya. Demi menghindari pertumpahan darah dan kesengsaraan panjang bagi mereka, maka perlawanan yang diberikan hanyalah dengan berpindah. Kepindahan itu merupakan bukti, mereka memilih mengalah atau bertawakal. Berpasrah diri atas setiap tantangan, cobaan, atau ujian, merupakan bentuk kemuliaan yang dimiliki orang-orang yang senantiasa bersabar dan bersyukur.
Uniknya, ujian-ujian mengalah itu terus saja berdatangan. Seakan, Om Jima dan kawan-kawan merupakan sasaran empuk untuk diuji ketawakalannya. Dan hebatnya, mereka terus istiqomah untuk terus mengalah. Melawan setiap tantangan dengan memasrahkan kepada Yang Mahakuasa. Lalu, tanpa banyak cerita, mereka pun membangun surga baru. Surga yang sebenar-benarnya surga.
Dan, ketika Om Jima memproklamirkan keinginan warganya untuk tare kampung (tanpa kampung), tare agama (tanpa agama), dan tare pamarentah (tanpa pemerintah), maka itu sama artinya dengan tekad untuk mengatur jarak dengan persoalan-persoalan duniawi. Persisnya, masalah-masalah yang bisa menganggu perjalanan batinnya yang telah menncapai tahapan bertawakal. Tekad untuk mengatur jarak dengan keinginan dan hawa nafsu sama maknanya dengan berzuhud.[]